Jangan Terjebak! Membongkar Taktik Rage Bait di Media Sosial
Magetan - Pernahkah Anda scroll media sosial lalu tiba-tiba darah mendidih, jari gatal ingin mengetik komentar panjang lebar? Hati-hati, Anda mungkin baru saja terkena rage bait. Apa itu? Dalam bahasa Inggris, rage bait didefinisikan sebagai 'content that is intentionally designed to provoke an angry reaction from the audience, often to increase engagement, clicks, or views.' Singkatnya, ini adalah umpan yang sengaja dilempar untuk memancing kemarahan kita, tujuannya cuma satu: agar konten itu jadi viral.
Sebenarnya, ide memancing emosi bukanlah hal baru. Dari zaman dulu, berita sensasional atau gosip provokatif memang selalu menarik perhatian. Namun, di era media sosial, taktik rage bait berevolusi menjadi jauh lebih canggih. Kreator konten, atau bahkan akun tak dikenal, akan sengaja membuat unggahan, pernyataan, atau video yang kontroversial. Mereka tahu betul, semakin kita marah, semakin kita akan bereaksiโbaik itu dengan komentar pedas, share, atau bahkan membuat konten balasan. Itu semua adalah bahan bakar gratis bagi algoritma media sosial, membuat konten mereka makin menyebar luas.
Contoh paling nyata? Ingat video Bigmo yang sempat ramai di TikTok beberapa waktu lalu? Dia dengan berani menyebut Surabaya sebagai "Kota L", mengumbar segala "kejelekan" kota ini, dan bahkan sesumbar tak mau lagi menginjakkan kaki di sini. Video semacam itu, yang sengaja mendiskreditkan atau menyerang sentimen publik, adalah contoh sempurna dari rage bait. Begitu video itu muncul di feed Anda, respons pertama kita seringkali adalah rasa tidak terima, lalu keinginan untuk membantah habis-habisan. Nah, persis di situlah Anda sudah terjebak. Setiap komentar marah, setiap share yang dibumbui makian, adalah kemenangan bagi si pembuat konten. Algoritma menganggap interaksi Anda sebagai tanda bahwa konten itu "menarik," lantas menyajikannya ke lebih banyak mata.
Kenapa taktik ini begitu manjur? Sederhana saja, emosi, terutama kemarahan, adalah pendorong interaksi yang luar biasa kuat. Kita cenderung lebih aktif menanggapi hal yang membuat kita murka daripada hal yang biasa-biasa saja. Para pembuat rage bait ini sangat memahami psikologi tersebut. Mereka tak peduli Anda setuju atau tidak, yang penting Anda merespons. Respons Anda, apa pun bentuknya, adalah amunisi untuk popularitas mereka.
Jadi, lain kali Anda merasa tiba-tiba tersulut emosi saat berselancar di dunia maya, tarik napas dalam-dalam. Kenali pola-pola rage bait. Sadarilah bahwa di balik setiap unggahan provokatif, bisa jadi ada niat tersembunyi untuk sekadar memancing Anda, menarik perhatian, dan mendongkrak metrik engagement. Jangan sampai emosi Anda diperalat. Mari jadi pengguna media sosial yang lebih cerdas, mampu memilah informasi yang benar-benar bernilai dari sekadar umpan kemarahan yang manipulatif.