Film Kpop Demon Hunters Bisa Jadi Bahan Skripsi?
Magetan - Apa jadinya kalau dunia gemerlap K-Pop dipertemukan dengan kisah pertarungan melawan iblis? Itulah yang ditawarkan film Kpop Demon Hunters, sebuah fantasi aksi yang sempat membuat heboh penggemar budaya pop Korea. Menariknya, film ini bukan hanya tontonan seru, tetapi juga membuka ruang baru untuk penelitian di bidang sastra, budaya, media, dan linguistik.
Dalam film ini, diceritakan sekelompok idol K-Pop yang tampak seperti artis biasa di panggung musik, tetapi diam-diam mereka adalah pemburu iblis (demon hunters). Dengan kehidupan ganda yang penuh rahasia, mereka harus menyeimbangkan gemerlap konser dengan pertempuran melawan makhluk kegelapan. Cerita ini memadukan aksi, mitologi, dan dunia hiburan modern, menjadikannya tontonan yang segar sekaligus penuh simbol.
Bagi mahasiswa Sastra Inggris, film seperti ini bisa jadi contoh bagaimana budaya populer masuk ke dalam ruang akademik. Analisis teks tidak harus selalu pada karya klasik; film K-Pop pun bisa dibaca dari berbagai sudut pandang.
Dari sisi sastra, film ini memperlihatkan campuran mitologi dan budaya pop modern. Kisah idol yang menjadi pahlawan bisa dibaca sebagai bentuk intertekstualitasโbagaimana narasi tradisional tentang kebaikan versus kejahatan disulap menjadi cerita baru dengan bintang K-Pop sebagai tokoh utama.
Dari perspektif budaya, film ini menyimpan kritik tentang realitas industri hiburan Korea. Para idol yang melawan iblis bisa dipandang sebagai metafora generasi muda yang menghadapi tekanan besar dari globalisasi, standar sosial, hingga fandom internasional. Pertanyaan penelitian yang mungkin muncul: bagaimana film ini menggambarkan identitas generasi muda Korea di tengah arus Hallyu?
Kalau ditarik ke media studies, Kpop Demon Hunters juga menunjukkan fenomena konvergensi media. Musik, konser, film, dan media sosial bertemu dalam satu proyek hiburan. Hal ini bisa diteliti lewat respon fandom di internet, strategi promosi global, atau bagaimana film memperluas citra K-Pop ke ranah baru.
Sementara dari bidang linguistik, film ini bisa jadi bahan untuk melihat fenomena campur kode (code-switching). Bahasa Korea dan Inggris sering muncul berdampingan, menandakan bagaimana hiburan Korea sengaja dibangun agar mudah diterima penonton internasional. Penelitian bisa meneliti strategi subtitling, dubbing, atau bahkan bahasa fandom dalam mendiskusikan film ini di media sosial.
Dengan kata lain, film ini tidak hanya menarik untuk ditonton, tapi juga bisa menjadi inspirasi topik skripsi atau penelitian. Mulai dari intertekstualitas dalam narasi, representasi idol dalam budaya global, strategi media lintas platform, sampai analisis linguistik bahasa K-Popโsemuanya terbuka untuk digali.
Kpop Demon Hunters membuktikan bahwa budaya populer bisa menjadi jembatan antara hiburan dan akademik. Dan siapa tahu, riset tentang film ini justru bisa membawa kita menemukan perspektif baru dalam memahami hubungan antara sastra, budaya, dan media modern.
Image source: Sony Picture Animations